Selasa, 18 Maret 2014

Perekonomian Indonesia




BAB I
PENDAHULUAN
     A.      Latar Belakang

Bisnis Retail merupakan keseluruhan aktivitas bisnis yang terkait dengan penjualan dan pemberian layanan kepada masyarakat sebagai pelaku konsumen untuk pengunaan yang sifatnya individu sebagai pribadi maupun keluarga. Keberhasilan dalam pasar Retail yang kompetitif, pelaku Retail harus dapat menawarkan produk yang tepat, dengan harga, waktu dan tempat yang tepat pula. Oleh karena itu, pemahaman terhadap pelaku Retail terhadap karakteristik target pasar atau konsumen yang akan dilayani merupakan hal yang sangat penting. Dalam operasionalnya pelaku Retail menjalankan beberapa fungsi antara lain membantu konsumen dalam menyediakan berbagai produk dan jasa. Menjalankan fungsi memecah maupun menambah nilai produk,  secara keseluruhan pengelola bisnis Retail membutuhkan implementasi fungsi-fungsi manajemen secara terintegrasi baik fungsi keuangan, pemasaran, sumberdaya manusia, maupun operasional. Sehinga pelaku Retail dapat memahami secara penuh tentang lingkup bisnis Retailnya, cara strategi pengembangannya dan Memanajemen bisnisnya.

Industri Retail semakin berubah seiring dengan perubahan teknologi, perkembangan dunia usaha serta  kebutuhan konsumen. Siap atau tidak, Retail di Indonesia akan menghadapi persaingan yang demikian sengit. Apalagi dengan semakin maraknya Retail asing di Indonesia yang punya kekuatan merek dan dana yang “tak terbatas”. Oleh karenanya Retail di Indonesia perlu mewaspadai atau memahami berbagai tren yang akan terjadi pada dunia Retail di masa depan. Berikut adalah 10 hal yang bisa menentukan masa depan Retail.

Bisnis ritel atau bisnis eceran adalah bisnis yang menyalurkan barang maupun jasa kepada pengguna akhir. Segmen bisnis ritel sangat luas, mulai dari segmen bawah hingga masyarakat kelas atas karena produk yang ditawarkan pun sangat beragam. Akan tetapi, bisnis ritel ternyata tak semudah yang dibayangkan. Dominasi merek terkenal dan modal yang tak terbatas serta serbuan ritel asing dapat menjadi faktor sebuah bisnis ritel tutup buku. Berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan untuk memelihara bisnis ritel yang sudah berjalan.

Orang-orang yang tertarik untuk memulai sebuah toko ritel perlu memastikan bahwa mereka berada dalam posisi untuk benar-benar membuat toko sukses. Hal ini terutama berlaku di zaman ekonomi sulit ketika banyak perusahaan yang berjuang untuk tetap bertahan. Ada banyak hal untuk mempertimbangkan untuk menentukan apakah suatu bisnis akan dapat melakukannya dengan baik sekarang termasuk lokasi dan jenis usaha ritel yang Anda tertarik untuk memulai. Namun, pertanyaan yang benar apakah atau tidak bisnis Anda akan melakukannya dengan baik memiliki kurang untuk melakukan dengan toko dan banyak lagi dengan Anda. Tanyakan pada diri Anda jika Anda memiliki lima berikut harus-memiliki kualitas untuk menjalankan sebuah toko ritel yang sukses. Jika Anda melakukannya, Anda harus dapat membuat pekerjaan bisnis Anda terlepas dari kesulitan ekonomi yang dihadapi ritel saat ini.







BAB II
DAFTAR ISI

Bab I Pendahuluan

Latar Belakang                                    ................................................... 1

BAB II  DAFTAR ISI                                   ................................................... 2

BAB III Pembahasan

Pengertian Bisnis Retail                      ....................................................  3
Pembahasan Bisnis retail Daerah        ....................................................  5
Pengaruh Bisnis Retail pada Pendapatan Daerah dan Nasional ........... 6
Pengaruh terhadap konsumen             ...................................................  9

DAFTAR PUSTAKA                                    .................................................... 10





























III

PEMBAHASAN



Pengertian Retail

Retail adalah penjualan dari sejumlah kecil komoditas kepada konsumen.
Retail berasal dari bahasa Perancis yaitu " Retailer" yang berarti " Memotong menjadi kecil kecil" (Risch, 1991 ).

Sedangkan menurut Gilbert (2003) Retail adalah Semua usaha bisnis yang secara langsung mengarahkan kemampuan pemasarannya untuk memuaskan konsumen akhir berdasarkan organisasi penjualan barang dan jasa sebagai inti dari distribusi

Dalam kamus Bahasa Inggris - Indonesia, Retail bisa juga di artikan sebagai "Eceran"
Pengertian Retailing adalah semua aktivitas yang mengikut sertakan pemasaran barang dan jasa secara langsung kepada pelanggan
Pengertian Retailer adalah semua organisasi bisnis yang memperoleh lebuh dari setengah hasil penjualannya dari retailing ( lucas, bush dan Gresham, 1994)

Klasifikasi Retail
Menurut Pintel dan Diamond (1971), Retail dapat di klasifikasikan dalam banyak cara, sebagai contoh Retail dapat di kelompokkan sesuai dengan aktivitas penjualan barang berdasarkan sbb :

- Retail Kecil
Bisnis Retail kecil di gambarkan sebagai retailer yang berpenghasilan di bawah $500 pertahun. Pemilik retail pada umumnya bertanggung jawab penuh terhadap seluruh penjualan dan manajemen.
Biasanya kebanyakan pemilik toko pada bisnis retail kecil ini dimiliki oleh secara individu (Individual Proprietorship)

- Retail Besar
Pada saat ini industri Retail di kuasai oleh organisasi besar, organisasi tersebut meliputi :
Departemen Store - Chain organization (organisasi berantai), Supermarket, Catalog Store, Warehouse, Outlet dan Online Store (Toko Online )








Departemen Store merupakan salah satu dari retailer besar dimana menawarkan berbagai macam jenis produk / barang, tingkat harga dan kenyamanan dalam berbelanja.
Produk yang ditawarkan bisa meliputi :

- Perlengkapan pria ( Mens World ) dan Wanita ( Ladies World )

- Perlengkapan Remaja ( Youth World )

- Perlengkapan anak anak & permainan (Children & Toys World)

- Perlengkapan Sepatu dan Accesories ( Shoes World )

- Perlengkapan Olahraga & Alat Musik (Sport Center)

- Perlengkapan perangkat keras /Rumah tangga (Hardware)
 
- Perlengkapan Kosmetik

- Dan sebagainya

Pembagian Wilayah Di awal sudah saya jelaskan mengenai produk yang di tawarkan

Produk yang ditawarkan bisa meliputi :

- Perlengkapan pria ( Mens World ) dan Wanita ( Ladies World )

- Perlengkapan Remaja ( Youth World )
 
- Perlengkapan anak anak & permainan (Children & Toys World)

- Perlengkapan Sepatu dan Accesories ( Shoes World )

- Perlengkapan Olahraga & Alat Musik (Sport Center)

- Perlengkapan perangkat keras /Rumah tangga (Hardware)

- Perlengkapan Kosmetik

- Dan sebagainya







Retail yang akan dibahas adalah:
Waralaba Alfamart
Waralaba Alfamart adalah usaha minimarket yang dimiliki dan dioperasikan berdasarkan kesepakatan waralaba dari PT. SumberAlfariaTrijaya Tbk, selaku pemegang merek Alfamart. Dengan motto “Belanja Puas, Harga Pas” model bisnis Alfamart adalah menjual berbagai kebutuhan sehari- hari dengan harga terjangkau dan berlokasi di sekitar wilayah perumahan.
Peluang Bisnis Mini Market
  • Pergeseran pola belanja masyarakat (survey Nielsen research: Minimarket lebih diminati).
  • Kebutuhan sarana belanja yang dekat tempat tinggal.
  • Harga jual produk bersaing.
  • Mini Market sebagai sarana rekreasi keluarga.
  • Kondisi Lalu lintas.
Kunci Sukses Bisnis Usaha Mini Market
  • Lokasi yang strategis.
  • Merk toko yang dikenal masyarakat luas.
  • Personal toko yang tangguh.
  • Pelayanan yang baik.
  • Pilihan produk yang tepat dan berkualitas.
  • Harga yang pas.
  • Display yang menarik.
  • Promosi yang berkesinambungan.











PENDAPATAN ALFAMART DAERAH JAKARTA DAN NASIONAL
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk  (AMRT) mencatat peningkatan kinerja dengan membukukan laba bersih sebesar Rp 481 miliar di tahun 2012. Pencapaian ini lebih besar 33,3 persen atau Rp 120 miliar dibanding periode yang sama tahun 2011.
Peningkatan kinerja ini didorong oleh peningkatan pendapatan bersih yang naik sebesar sebesar 28,2 persen dibanding tahun sebelumnya yakni dari Rp 18,2 triliun di tahun 2011 menjadi 23,4 triliun di tahun 2012. Selain itu, pencapaian-pencapaian tersebut juga ditopang oleh ekspansi usaha Perseroan serta efisiensi yang secara konsisten dilaksanakan sehingga tingkat marjin dapat terus dipertahankan.
Apalagi, sepanjang tahun 2012, Perseroan terus berekspansi dengan membuka 1.266 toko baru dengan 377 toko diantaranya adalah waralaba. Untuk memperluas pangsa pasar dan menambah kapasitas pelayanannya, selama tahun 2012 Perseroan juga telah menambah 3 pusat distribusi baru yaitu di Medan (Sumatera Utara), Jember (Jawa Timur) dan Bogor (Jawa Barat).
Tentunya, katanya, ekspansi yang telah dilakukan tersebut berimbas pada peningkatan jumlah aset Perseroan yang meningkat dari Rp 5 triliun di tahun 2011 menjadi Rp 7,5 triliun di akhir tahun 2012 atau naik sebesar 49,6 persen.
Dalam sisi tanggung jawab sosial perusahaan, dengan mengusung tema “Alfamart for All” pada tahun 2010, melalui salah satu programnya yaitu Alfamart SMEs, sampai dengan tahun 2012 perseroan telah berhasil membina lebih dari 118.000 pedagang dengan basis UMKM, memperbaiki 71 warung tradisional melalui bedah warung, merevitalisasi 205 kios peritel UMKM serta menyelenggarakan pelatihan tata kelola warung untuk lebih dari 2.000 pedagang kecil.
Selain itu Perseroan juga secara tanggap dan aktif berusaha ikut terlibat dalam setiap usaha pemberian bantuan penanggulangan bencana alam, memberikan bantuan ke yayasan-yayasan sosial, membantu Palang Merah Indonesia melalui Aksi Donor Darah dengan melibatkan karyawan dan pelanggan. 









Kinerja Usaha

Hingga akhir 2009, Alfamart berharap bisa meningkatkan pendapatan tersebut menjadi Rp 10 triliun. Sementara sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, Alfamart sukses menggenjot peningkatan angka penjualan bersihnya mencapai Rp 7,588 triliun dari semula Rp 6,075 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Alhasil, meskipun beban pokok penjualan perseroan mengalami peningkatan tipis menjadi Rp 6,434 triliun dari semula Rp 5,153 triliun, perusahaan ritel ini masih mampu mengalami pertumbuhan laba kotor menjadi Rp 1,154 triliun dari Rp 921,802 miliar. Demikian juga dengan laba usaha yang meningkat menjadi Rp 128,716 miliar dari semula hanya Rp 106,667 miliar.

Catatan serupa juga dibukukan laba sebelum pajak penghasilan badan yang menanjak jadi Rp 132,509 miliar dari Rp 110,070 miliar. Sayangnya meningkatnya beban pajak membuat laba bersih Alfamart harus terpangkas sedikit menjadi Rp 111,971 miliar dari Rp 111,745 miliar dan laba bersih per saham dasar menjadi Rp 32,80 dari Rp 36,18.

Sementara itu, selama enam bulan pertama 2009, Alfamart mencatatkan pendapatan Rp4,5 triliun atau naik dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp3,6 triliun. Penjualan tersebut meningkat sekitar 25,5%.

Namun di sisi lain, Alfamart mengalami penurunan laba bersih sekitar 44,5% menjadi Rp 24,39 milliar selama selama semester pertama 2009, padahal pada periode yang sama 2008, laba perseroan membukukan Rp 44 milliar. Sementara itu,beban pokok penjualan juga naik menjadi Rp 3,83 triliun dari periode sama 2008 sebesar Rp 3,06 triliun. Akibatnya, laba kotor terbukukan Rp 688,8 milliar dari sebelumnya Rp 544,8 milliar.
Di sisi lain, beban usaha perseroan juga membengkak menjadi Rp 655,6 milliar dari sebelumnya Rp497,9 milliar. Kondisi itu membuat laba usaha perusahaan turun menjadi Rp 33,12 milliar dari sebelumnya Rp 46,93 milliar. Sedangkan laba bersih per saham turun dari Rp 14,25 menjadi Rp 7,16 per saham.  

Tahun ini sejumlah penghargaan juga diraih Alfamart, seperti Top Brand Award dan Indonesia Best Brand Award 2009, yang mencerminkan pencapaian kinerja perseroan yang terus membaik. Selain itu, prestasi Alfamart juga dapat dilihat dari jumlah gerai Alfamart yang terus berkembang pesat. Sebagai gambaran, per 31 Desember 2008, Alfamart memiliki 2.157 gerai minimarket  dan 622 minimarket Alfamart dalam bentuk waralaba. Angka ini terus berkembang dengan jumlah gerai per Mei 2009 mencapai 3.000 buah dengan gerai berbentuk waralaba sebanyak 711 buah yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera.

Lapangan Kerja
Dengan ribuan gerai dan memperkerjakan puluhan ribu pegawai, toh Alfamart tidak lekas puas, bahkan kian agresif mengepakkan sayap. Dalam agenda bisnisnya, ke depan Alfamart akan fokus mengembangkan gerai ke luar jawa, seperti Sumatera dan Sulawesi. Dalam melakukan ekspansi Alfamart nampaknya bakal memilih menggenjot bisnis waralabanya. Ini tak lepas dari keinginan sang pendiri, Djoko Susanto, yang berharap Alfamart tak hanya menjadi milik pribadi atau keluarga, tapi juga dimiliki masyarakat luas.
Terkait ekspansi pelebaran gerai, Alfamart menargetkan bisa membuka hingga 500 gerai per tahun. Itu artinya, Alfamart sabat tahun membuka lapangan kerja bagi sekitar 6 ribu orang/tahun atau 500 orang/bulan. Asumsinya rata-rata satu toko terdiri membutuhkan setidaknya 10-12 karyawan. Rinciannya, seorang kepala toko, satu asisten kepala toko, seorang merchandiser, 3-4 kasir, 4-5 pramuniaga. Sebagai informasi saja, di organisasi toko Alfamart jabatan terendah adalah kasir, lalu naik ke pramuniaga, berikutnya merchandiser, kemudian asisten kepala toko, dan tertinggi kepala toko.
Sumber : Bursa Efek Indonesia



















PENGARUH TERHADAP KONSUMEN
Untuk menciptakan kepuasan pelanggan suatu perusahaan
harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan konsumen yang dianggap
paling penting yang disebut “The Big Eight factors“  yang secara umum
dibagi menjadi tiga kategori sebagai berikut (Hannah and Karp, 1991).
 Faktor-faktor yang berhubungan dengan produk antara lain sebagai
berikut.
(a) Kualitas produk.
Tujuan Perusahaan
Produk
Nilai Produk Bagi
Pelanggan
Tingkat Kepuasan Pelanggan
Tujuan Perusahaan
Keinginan dan
Kebutuhan Pelanggan32
Kualitas produk yaitu merupakan mutu dari semua komponenkomponen yang membentuk produk. Sehingga produk tersebut mempunyai nilai tambah.
(b) Hubungan antara nilai dengan harga.
Hubungan antara nilai dengan harga merupakan  hubungan  antara harga dan nilai  produk yang ditentukan oleh perbedaan antara nilai yang diterima oleh pelanggan dengan harga yang dibayar oleh pelanggan terhadap suatu produk yang dihasilkan oleh badan usaha.
(c) Bentuk produk.
Bentuk produk merupakan komponen-komponen fisik dari suatu produk yang menghasilkan suatu manfaat.
(d) Keandalan.
Keandalan merupakan kemampuan dari suatu perusahaan untuk menghasilkan produk sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh perusahaan.


DAFTAR PUSTAKA
·         http://www.alfamartku.com

·         http://www.kompas.com

Perekonomian Indonesia #softskill




BAB I
                                                                       PENDAHULUAN 

             Latar Belakang

Bisnis Retail merupakan keseluruhan aktivitas bisnis yang terkait dengan penjualan dan pemberian layanan kepada masyarakat sebagai pelaku konsumen untuk pengunaan yang sifatnya individu sebagai pribadi maupun keluarga. Keberhasilan dalam pasar Retail yang kompetitif, pelaku Retail harus dapat menawarkan produk yang tepat, dengan harga, waktu dan tempat yang tepat pula. Oleh karena itu, pemahaman terhadap pelaku Retail terhadap karakteristik target pasar atau konsumen yang akan dilayani merupakan hal yang sangat penting. Dalam operasionalnya pelaku Retail menjalankan beberapa fungsi antara lain membantu konsumen dalam menyediakan berbagai produk dan jasa. Menjalankan fungsi memecah maupun menambah nilai produk,  secara keseluruhan pengelola bisnis Retail membutuhkan implementasi fungsi-fungsi manajemen secara terintegrasi baik fungsi keuangan, pemasaran, sumberdaya manusia, maupun operasional. Sehinga pelaku Retail dapat memahami secara penuh tentang lingkup bisnis Retailnya, cara strategi pengembangannya dan Memanajemen bisnisnya.

Industri Retail semakin berubah seiring dengan perubahan teknologi, perkembangan dunia usaha serta  kebutuhan konsumen. Siap atau tidak, Retail di Indonesia akan menghadapi persaingan yang demikian sengit. Apalagi dengan semakin maraknya Retail asing di Indonesia yang punya kekuatan merek dan dana yang “tak terbatas”. Oleh karenanya Retail di Indonesia perlu mewaspadai atau memahami berbagai tren yang akan terjadi pada dunia Retail di masa depan. Berikut adalah 10 hal yang bisa menentukan masa depan Retail.

Bisnis ritel atau bisnis eceran adalah bisnis yang menyalurkan barang maupun jasa kepada pengguna akhir. Segmen bisnis ritel sangat luas, mulai dari segmen bawah hingga masyarakat kelas atas karena produk yang ditawarkan pun sangat beragam. Akan tetapi, bisnis ritel ternyata tak semudah yang dibayangkan. Dominasi merek terkenal dan modal yang tak terbatas serta serbuan ritel asing dapat menjadi faktor sebuah bisnis ritel tutup buku. Berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan untuk memelihara bisnis ritel yang sudah berjalan.

Orang-orang yang tertarik untuk memulai sebuah toko ritel perlu memastikan bahwa mereka berada dalam posisi untuk benar-benar membuat toko sukses. Hal ini terutama berlaku di zaman ekonomi sulit ketika banyak perusahaan yang berjuang untuk tetap bertahan. Ada banyak hal untuk mempertimbangkan untuk menentukan apakah suatu bisnis akan dapat melakukannya dengan baik sekarang termasuk lokasi dan jenis usaha ritel yang Anda tertarik untuk memulai. Namun, pertanyaan yang benar apakah atau tidak bisnis Anda akan melakukannya dengan baik memiliki kurang untuk melakukan dengan toko dan banyak lagi dengan Anda. Tanyakan pada diri Anda jika Anda memiliki lima berikut harus-memiliki kualitas untuk menjalankan sebuah toko ritel yang sukses. Jika Anda melakukannya, Anda harus dapat membuat pekerjaan bisnis Anda terlepas dari kesulitan ekonomi yang dihadapi ritel saat ini.







BAB II
DAFTAR ISI

Bab I Pendahuluan

Latar Belakang                                    ................................................... 1

BAB II  DAFTAR ISI                                   ................................................... 2

BAB III Pembahasan

Pengertian Bisnis Retail                      ....................................................  3
Pembahasan Bisnis retail Daerah        ....................................................  5
Pengaruh Bisnis Retail pada Pendapatan Daerah dan Nasional ........... 6
Pengaruh terhadap konsumen             ...................................................  9

DAFTAR PUSTAKA                                    .................................................... 10





























III

PEMBAHASAN



Pengertian Retail

Retail adalah penjualan dari sejumlah kecil komoditas kepada konsumen.
Retail berasal dari bahasa Perancis yaitu " Retailer" yang berarti " Memotong menjadi kecil kecil" (Risch, 1991 ).

Sedangkan menurut Gilbert (2003) Retail adalah Semua usaha bisnis yang secara langsung mengarahkan kemampuan pemasarannya untuk memuaskan konsumen akhir berdasarkan organisasi penjualan barang dan jasa sebagai inti dari distribusi

Dalam kamus Bahasa Inggris - Indonesia, Retail bisa juga di artikan sebagai "Eceran"
Pengertian Retailing adalah semua aktivitas yang mengikut sertakan pemasaran barang dan jasa secara langsung kepada pelanggan
Pengertian Retailer adalah semua organisasi bisnis yang memperoleh lebuh dari setengah hasil penjualannya dari retailing ( lucas, bush dan Gresham, 1994)

Klasifikasi Retail
Menurut Pintel dan Diamond (1971), Retail dapat di klasifikasikan dalam banyak cara, sebagai contoh Retail dapat di kelompokkan sesuai dengan aktivitas penjualan barang berdasarkan sbb :

- Retail Kecil
Bisnis Retail kecil di gambarkan sebagai retailer yang berpenghasilan di bawah $500 pertahun. Pemilik retail pada umumnya bertanggung jawab penuh terhadap seluruh penjualan dan manajemen.
Biasanya kebanyakan pemilik toko pada bisnis retail kecil ini dimiliki oleh secara individu (Individual Proprietorship)

- Retail Besar
Pada saat ini industri Retail di kuasai oleh organisasi besar, organisasi tersebut meliputi :
Departemen Store - Chain organization (organisasi berantai), Supermarket, Catalog Store, Warehouse, Outlet dan Online Store (Toko Online )








Departemen Store merupakan salah satu dari retailer besar dimana menawarkan berbagai macam jenis produk / barang, tingkat harga dan kenyamanan dalam berbelanja.
Produk yang ditawarkan bisa meliputi :

- Perlengkapan pria ( Mens World ) dan Wanita ( Ladies World )

- Perlengkapan Remaja ( Youth World )

- Perlengkapan anak anak & permainan (Children & Toys World)

- Perlengkapan Sepatu dan Accesories ( Shoes World )

- Perlengkapan Olahraga & Alat Musik (Sport Center)

- Perlengkapan perangkat keras /Rumah tangga (Hardware)
 
- Perlengkapan Kosmetik

- Dan sebagainya

Pembagian Wilayah Di awal sudah saya jelaskan mengenai produk yang di tawarkan

Produk yang ditawarkan bisa meliputi :

- Perlengkapan pria ( Mens World ) dan Wanita ( Ladies World )

- Perlengkapan Remaja ( Youth World )
 
- Perlengkapan anak anak & permainan (Children & Toys World)

- Perlengkapan Sepatu dan Accesories ( Shoes World )

- Perlengkapan Olahraga & Alat Musik (Sport Center)

- Perlengkapan perangkat keras /Rumah tangga (Hardware)

- Perlengkapan Kosmetik

- Dan sebagainya







Retail yang akan dibahas adalah:
Waralaba Alfamart
Waralaba Alfamart adalah usaha minimarket yang dimiliki dan dioperasikan berdasarkan kesepakatan waralaba dari PT. SumberAlfariaTrijaya Tbk, selaku pemegang merek Alfamart. Dengan motto “Belanja Puas, Harga Pas” model bisnis Alfamart adalah menjual berbagai kebutuhan sehari- hari dengan harga terjangkau dan berlokasi di sekitar wilayah perumahan.
Peluang Bisnis Mini Market
  • Pergeseran pola belanja masyarakat (survey Nielsen research: Minimarket lebih diminati).
  • Kebutuhan sarana belanja yang dekat tempat tinggal.
  • Harga jual produk bersaing.
  • Mini Market sebagai sarana rekreasi keluarga.
  • Kondisi Lalu lintas.
Kunci Sukses Bisnis Usaha Mini Market
  • Lokasi yang strategis.
  • Merk toko yang dikenal masyarakat luas.
  • Personal toko yang tangguh.
  • Pelayanan yang baik.
  • Pilihan produk yang tepat dan berkualitas.
  • Harga yang pas.
  • Display yang menarik.
  • Promosi yang berkesinambungan.











PENDAPATAN ALFAMART DAERAH JAKARTA DAN NASIONAL
PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk  (AMRT) mencatat peningkatan kinerja dengan membukukan laba bersih sebesar Rp 481 miliar di tahun 2012. Pencapaian ini lebih besar 33,3 persen atau Rp 120 miliar dibanding periode yang sama tahun 2011.
Peningkatan kinerja ini didorong oleh peningkatan pendapatan bersih yang naik sebesar sebesar 28,2 persen dibanding tahun sebelumnya yakni dari Rp 18,2 triliun di tahun 2011 menjadi 23,4 triliun di tahun 2012. Selain itu, pencapaian-pencapaian tersebut juga ditopang oleh ekspansi usaha Perseroan serta efisiensi yang secara konsisten dilaksanakan sehingga tingkat marjin dapat terus dipertahankan.
Apalagi, sepanjang tahun 2012, Perseroan terus berekspansi dengan membuka 1.266 toko baru dengan 377 toko diantaranya adalah waralaba. Untuk memperluas pangsa pasar dan menambah kapasitas pelayanannya, selama tahun 2012 Perseroan juga telah menambah 3 pusat distribusi baru yaitu di Medan (Sumatera Utara), Jember (Jawa Timur) dan Bogor (Jawa Barat).
Tentunya, katanya, ekspansi yang telah dilakukan tersebut berimbas pada peningkatan jumlah aset Perseroan yang meningkat dari Rp 5 triliun di tahun 2011 menjadi Rp 7,5 triliun di akhir tahun 2012 atau naik sebesar 49,6 persen.
Dalam sisi tanggung jawab sosial perusahaan, dengan mengusung tema “Alfamart for All” pada tahun 2010, melalui salah satu programnya yaitu Alfamart SMEs, sampai dengan tahun 2012 perseroan telah berhasil membina lebih dari 118.000 pedagang dengan basis UMKM, memperbaiki 71 warung tradisional melalui bedah warung, merevitalisasi 205 kios peritel UMKM serta menyelenggarakan pelatihan tata kelola warung untuk lebih dari 2.000 pedagang kecil.
Selain itu Perseroan juga secara tanggap dan aktif berusaha ikut terlibat dalam setiap usaha pemberian bantuan penanggulangan bencana alam, memberikan bantuan ke yayasan-yayasan sosial, membantu Palang Merah Indonesia melalui Aksi Donor Darah dengan melibatkan karyawan dan pelanggan. 









Kinerja Usaha

Hingga akhir 2009, Alfamart berharap bisa meningkatkan pendapatan tersebut menjadi Rp 10 triliun. Sementara sepanjang sembilan bulan pertama tahun ini, Alfamart sukses menggenjot peningkatan angka penjualan bersihnya mencapai Rp 7,588 triliun dari semula Rp 6,075 triliun pada periode yang sama tahun lalu.

Alhasil, meskipun beban pokok penjualan perseroan mengalami peningkatan tipis menjadi Rp 6,434 triliun dari semula Rp 5,153 triliun, perusahaan ritel ini masih mampu mengalami pertumbuhan laba kotor menjadi Rp 1,154 triliun dari Rp 921,802 miliar. Demikian juga dengan laba usaha yang meningkat menjadi Rp 128,716 miliar dari semula hanya Rp 106,667 miliar.

Catatan serupa juga dibukukan laba sebelum pajak penghasilan badan yang menanjak jadi Rp 132,509 miliar dari Rp 110,070 miliar. Sayangnya meningkatnya beban pajak membuat laba bersih Alfamart harus terpangkas sedikit menjadi Rp 111,971 miliar dari Rp 111,745 miliar dan laba bersih per saham dasar menjadi Rp 32,80 dari Rp 36,18.

Sementara itu, selama enam bulan pertama 2009, Alfamart mencatatkan pendapatan Rp4,5 triliun atau naik dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp3,6 triliun. Penjualan tersebut meningkat sekitar 25,5%.

Namun di sisi lain, Alfamart mengalami penurunan laba bersih sekitar 44,5% menjadi Rp 24,39 milliar selama selama semester pertama 2009, padahal pada periode yang sama 2008, laba perseroan membukukan Rp 44 milliar. Sementara itu,beban pokok penjualan juga naik menjadi Rp 3,83 triliun dari periode sama 2008 sebesar Rp 3,06 triliun. Akibatnya, laba kotor terbukukan Rp 688,8 milliar dari sebelumnya Rp 544,8 milliar.
Di sisi lain, beban usaha perseroan juga membengkak menjadi Rp 655,6 milliar dari sebelumnya Rp497,9 milliar. Kondisi itu membuat laba usaha perusahaan turun menjadi Rp 33,12 milliar dari sebelumnya Rp 46,93 milliar. Sedangkan laba bersih per saham turun dari Rp 14,25 menjadi Rp 7,16 per saham.  

Tahun ini sejumlah penghargaan juga diraih Alfamart, seperti Top Brand Award dan Indonesia Best Brand Award 2009, yang mencerminkan pencapaian kinerja perseroan yang terus membaik. Selain itu, prestasi Alfamart juga dapat dilihat dari jumlah gerai Alfamart yang terus berkembang pesat. Sebagai gambaran, per 31 Desember 2008, Alfamart memiliki 2.157 gerai minimarket  dan 622 minimarket Alfamart dalam bentuk waralaba. Angka ini terus berkembang dengan jumlah gerai per Mei 2009 mencapai 3.000 buah dengan gerai berbentuk waralaba sebanyak 711 buah yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera.

Lapangan Kerja
Dengan ribuan gerai dan memperkerjakan puluhan ribu pegawai, toh Alfamart tidak lekas puas, bahkan kian agresif mengepakkan sayap. Dalam agenda bisnisnya, ke depan Alfamart akan fokus mengembangkan gerai ke luar jawa, seperti Sumatera dan Sulawesi. Dalam melakukan ekspansi Alfamart nampaknya bakal memilih menggenjot bisnis waralabanya. Ini tak lepas dari keinginan sang pendiri, Djoko Susanto, yang berharap Alfamart tak hanya menjadi milik pribadi atau keluarga, tapi juga dimiliki masyarakat luas.
Terkait ekspansi pelebaran gerai, Alfamart menargetkan bisa membuka hingga 500 gerai per tahun. Itu artinya, Alfamart sabat tahun membuka lapangan kerja bagi sekitar 6 ribu orang/tahun atau 500 orang/bulan. Asumsinya rata-rata satu toko terdiri membutuhkan setidaknya 10-12 karyawan. Rinciannya, seorang kepala toko, satu asisten kepala toko, seorang merchandiser, 3-4 kasir, 4-5 pramuniaga. Sebagai informasi saja, di organisasi toko Alfamart jabatan terendah adalah kasir, lalu naik ke pramuniaga, berikutnya merchandiser, kemudian asisten kepala toko, dan tertinggi kepala toko.
Sumber : Bursa Efek Indonesia



















PENGARUH TERHADAP KONSUMEN
Untuk menciptakan kepuasan pelanggan suatu perusahaan
harus dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan konsumen yang dianggap
paling penting yang disebut “The Big Eight factors“  yang secara umum
dibagi menjadi tiga kategori sebagai berikut (Hannah and Karp, 1991).
 Faktor-faktor yang berhubungan dengan produk antara lain sebagai
berikut.
(a) Kualitas produk.
Tujuan Perusahaan
Produk
Nilai Produk Bagi
Pelanggan
Tingkat Kepuasan Pelanggan
Tujuan Perusahaan
Keinginan dan
Kebutuhan Pelanggan32
Kualitas produk yaitu merupakan mutu dari semua komponenkomponen yang membentuk produk. Sehingga produk tersebut mempunyai nilai tambah.
(b) Hubungan antara nilai dengan harga.
Hubungan antara nilai dengan harga merupakan  hubungan  antara harga dan nilai  produk yang ditentukan oleh perbedaan antara nilai yang diterima oleh pelanggan dengan harga yang dibayar oleh pelanggan terhadap suatu produk yang dihasilkan oleh badan usaha.
(c) Bentuk produk.
Bentuk produk merupakan komponen-komponen fisik dari suatu produk yang menghasilkan suatu manfaat.
(d) Keandalan.
Keandalan merupakan kemampuan dari suatu perusahaan untuk menghasilkan produk sesuai dengan apa yang dijanjikan oleh perusahaan.


DAFTAR PUSTAKA
·         http://www.alfamartku.com

·         http://www.kompas.com